HUMANOSPHERE SCIENCE SCHOOL 2009

Maret 11th, 2009

HUMANOSPHERE SCIENCE SCHOOL 2009


WSS 2006 Participant

26 – 27 Maret 2009

Tempat :
UPT Balai Penelitian dan Pengembangan Biomaterial,
Lembaga Ilmu Pengetehuan Indonesia (LIPI)
Jl. Raya Bogor Km 46, Cibinong, Bogor

Organizers:
UPT Balai Penelitian dan Pengembangan Biomaterial


Didukung Oleh :

Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) Kyoto University dan CSEAS G-COE Program

*selengkapnya silakan kunjungi http://hss2009.biomaterial-lipi.org

Kayu Tahan Api

Maret 7th, 2009

Kebakaran sepertinya menjadi hal yang lumrah menimpa bangunan, baik perumahan maupun gedung lainnya, dalam skala besar ataupun kecil. Sudah berapa banyak kerugian akibat kebakaran, baik material maupun korban jiwa. Tercatat, frekuensi kebakaran di Provinsi DKI Jakarta sebesar 7-8 kasus setiap hari. Kerugian akan makin tinggi bila dihitung secara keseluruhan untuk semua kasus kebakaran yang terjadi di Indonesia.

Sampai saat ini, dalam pembangunan rumah ataupun bangunan lainnya, sebagian besar masih memakai kayu sebagai komponen. Ini karena kayu merupakan bahan yang murah serta mudah didapat dan dibentuk ketika akan digunakan untuk membangun rumah. Di sisi lain, kayu merupakan bahan yang sangat mudah terbakar, apalagi kalau dalam kondisi kering. Kondisi inilah yang sering memicu terjadinya kebakaran pada bangunan tersebut.

Mudahnya penjalaran api pada kayu disebabkan oleh sifat alami komponen kayu yang tersusun atas 50 persen karbon, 6 persen hidrogen, dan 44 persen oksigen yang memang mudah terbakar. Dalam kondisi cukup udara dan adanya api, unsur kimia ini mudah terurai menjadi komponen gas mudah terbakar, seperti CO, CO2, H2, dan CH4. Baca seterusnya »

Pemanfaatan Limbah Cangkang Udang Sebagai Bahan Pengawet Kayu Ramah Lingkungan

Maret 5th, 2009

.

Udang adalah komoditas andalan dari sektor perikanan yang umumnya diekspor dalam bentuk beku. Potensi produksi udang di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Selama ini potensi udang Indonesia rata-rata meningkat sebesar 7,4 persen per tahun.< per persen 7,4 sebesar meningkat rata-rata Indonesia udang potensi ini Selama meningkat. terus tahun ke dari di produksi Potensi beku. bentuk dalam diekspor umumnya yang perikanan sektor andalan komoditas>

Data tahun 2001, potensi udang nasional mencapai 633.681 ton. Dengan asumsi laju peningkatan tersebut tetap, maka pada tahun 2004 potensi udang diperkirakan sebesar 785.025 ton. Dari proses pembekuan udang untuk ekspor, 60-70 persen dari berat udang menjadi limbah (bagian kulit dan kepala) sehingga diperkirakan akan dihasilkan limbah udang sebesar 510.266 ton.

Limbah sebanyak itu, jika tidak ditangani secara tepat, akan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, karena selama ini pemanfaatan limbah cangkang udang hanya terbatas untuk pakan ternak saja seperti itik, bahkan sering dibiarkan membusuk.

Cangkang udang mengandung zat khitin sekitar 99,1 persen. Jika diproses lebih lanjut dengan melalui beberapa tahap, akan dihasilkan khitosan, yaitu: Baca seterusnya »

Pengolahan Limbah Cangkang Udang

Maret 2nd, 2009

Cangkang Udang

Udang adalah komoditas andalan sektor perikanan yang umumnya diekspor dalam bentuk beku. Adapun Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor udang terbesar di dunia dengan nilai ekspor antara 850 juta sampai 1 miliar dollar AS per tahun.

Data Direktorat Jenderal Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa areal tambak udang nasional pada tahun 2003 seluas 478.847 hektar (ha) dengan volume produksi 191.723 ton atau 400 kilogram (kg) per hektar.

Untuk tahun 2004 ditargetkan usaha itu pada areal 328.425 ha dengan produksi 226.553 ton atau 690 kg per hektar. Setahun berikutnya pada areal seluas 397.398 ha dengan produksi 251.599 ton atau hanya 660 kg per hektar. Tahun 2006 seluas 480.850 ha dan 281.901 ton.

Tahun 2007 seluas 581.825 ha dan 318.565 ton, tahun 2008 seluas 704.013 ha dengan produksi 362.935 ton atau 510 kg per ha, serta tahun 2009 luas areal budidaya udang mencapai 851.852 ha serta volume produksi yang ditargetkan sebanyak 416.616 ton.

Sebagian besar udang yang dibudidayakan adalah jenis udang windu. Namun, pada dekade terakhir ini banyak yang mulai beralih ke jenis udang lain, yaitu udang vannamei (vannamei booming). Sebab, dari hasil penelitian, jenis ini lebih tahan dari serangan penyakit white spot yang banyak menyerang udang jenis lain, seperti udang windu.

Di Indonesia saat ini ada sekitar 170 pengolahan udang dengan kapasitas produksi terpasang sekitar 500.000 ton per tahun. Dari proses pembekuan udang (cold storage) dalam bentuk udang beku headless atau peeled untuk ekspor, 60-70 persen dari berat udang jadi limbah (bagian kulit dan kepala). Baca seterusnya »

Khitosan, Pengendali Rayap Ramah Lingkungan

Februari 26th, 2009

.

RAYAP merupakan salah satu jenis serangga dalam ordo Isoptera. Di Indonesia tercatat ada sekitar 200 jenis dan baru 179 jenis yang sudah teridentifikasi. Beberapa jenis rayap di Indonesia yang secara ekonomi sangat merugikan karena menjadi hama adalah tiga jenis rayap tanah/subteran (Coptotermes curvignathus Holmgren, Macrotermes gilvus Hagen, serta Schedorhinotermes javanicus Kemner) dan satu jenis rayap kayu kering (Cryptotermes Cynocephalus Light). Tiap tahun kerugian akibat serangan rayap di Indonesia tercatat sekitar Rp 224 miliar-Rp 238 miliar.

Sampai saat ini, dalam pengendalian serangan rayap skala lapangan, sebagian besar memakai bahan kimia yang sangat beracun dan tidak ramah lingkungan (non-biodegradable), seperti asam borak, CCB (Copper-Chrome-Boron), CCA (Copper-Chrome-Arsen), dan CCF (Copper-Chrome-Flour). Ini akan merusak lingkungan jika tidak diantisipasi karena bahan tersebut sukar dirombak oleh alam. Ada juga metode pengendalian secara biologi dalam skala laboratorium dengan nematoda (cacing), bakteri, dan jamur yang diumpankan ke rayap sehingga akan mengganggu sistem pencernaan rayap.

Serangan rayap juga bisa dikendalikan secara fisik dengan soil treatment, pemasangan perintang, dan pembuatan trench yang dilakukan sebelum maupun sesudah konstruksi.

BEBERAPA penelitian berusaha mencari bahan yang efektif mengendalikan serangan rayap sebagai pengganti bahan kimia yang selama ini umum digunakan, di antaranya adalah khitosan. Penelitian Suptijah et al tahun 1992 menyatakan khitosan mempunyai bentuk yang spesifik, mengandung gugus amin dalam rantai karbonnya yang bermuatan positif, yang berlawanan dengan polisakarida lainnya.

Sifat-sifat khitosan diantaranya adalah struktur molekulnya tertentu, dalam keadaan cair sensitif terhadap kekuatan ion tinggi, dan daya repulsif antara fungsi amin menurun sesuai dengan fleksibilitas rantai khitosan. Penggabungannya dalam ruang distabilkan oleh ikatan hidrogen di dalam dan di luar rantai, menghasilkan suatu molekul resisten yang tahan terhadap stres mekanik dan kemampuan mengembangnya bertambah. Baca seterusnya »