Mencintai Allah dan Rosul-Nya

0

Posted by Dede Heri Yuli Yanto | Posted in Uncategorized | Posted on 24-10-2011

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
CINTA KEPADA ALLAH DAN ROSUL-NYA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ (الْكَافِرِينَ (32

أما بعد:

Al-Azhari berkata: “Arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rosul-Nya adalah (tu’nii tho’atuhu lahuma, wa ittiba’uhu amrahuma) menaati dan mengikuti perintah Allah dan Rosul-Nya” Al-Baidhawi berkata: “(Al-mahabbah iroodatu at-tho’ah) Cinta adalah keinginan untuk taat”. Ibnu Arafah berkata: (Al-mahabbah, ‘inda ‘arab: iroodatu asy syai i ‘ala qosdalahu)“Cinta menurut istilah orang arab adalah menghendaki sesuatu untuk meraihnya.” Al-Zujaj berkata: (wa al-mahabbah al-insan lillahi wa rasulahu tho’atuhu lahuma, wa ridhoo hu bima amarallahu subhanahu bihi wa ati bihi rosuulallah)”Cintanya manusia kepada Allah dan Rosul-Nya adalah menaati keduannya dan ridho terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rosulullah SAW.”

Imam Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat di atas (Al-Imran 31-32):

هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر، حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله، كما ثبت في الصحيح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: “مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عليه أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ” ولهذا قال: { قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ } أي: يحصل لكم فوق ما طلبتم من محبتكم إياه، وهو محبته إياكم، وهو أعظم من الأول، كما قال بعض الحكماء العلماء: ليس الشأن أن تُحِبّ، إنما الشأن أن تُحَبّ وقال الحسن البصري وغيره من السلف: زعم قوم أنهم يحبون الله فابتلاهم الله بهذه الآية، فقال: { قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ } .

Ayat yang mulia ini menilai setiap orang yang mengakui dirinya cinta kepada Allah, sedangkan sepak terjangnya bukan pada jalan yang telah dirintis oleh Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya dia adalah orang yang dusta dalam pengakuannya, sampai ia mengikuti syariat Nabi Muhammad SAW, dan agama yang dibawanya, dalam semua ucapan dan perbuatannya. Seperti yang disebutkan dalam hadist shahih, bahwa rosulullah SAW pernah bersabda:
“Barangsiapa yang melakukan suatu amal perbuatan yang bukan termasuk tuntunan kami, maka amalnya itu ditolak.”
Karena itulah maka dalam ayat ini disebutkan melalui firman-Nya:

إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rosulullah), niscaya Allah mengasihi kalian (Ali Imran:31)

Yakni kalian akan memperoleh balasan yang lebih besar daripada apa yang dianjurkan kepada kalian agar kalian mencintai-Nya, yaitu Allah akan mencintai kalian. Kecintaan Allah kepada kalian dinilai lebih besar daripada yang pertama, yaitu kecintaan kalian kepada-Nya. Seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama bijak, bahwa duduk perkaranya bukanlah bertujuan agar kamu mencintai, melainkan yang sebenarnya ialah bagamana supaya kamu dicintai.
Al-Hasan Al-Basri dan lain-lainnya dari kalangan ulama salaf mengatakan bahwa ada segolongan kaum yang menduga bahwa dirinya mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini, yaitu firman-Nya:

{ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ } .

Sedangkan arti cinta Allah kepada hamba-Nya adalah ampunan, ridho dan pahala. Al-Baidhawai berkata ketika menafsirkan ayat:

يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Niscaya Allah akan mencintaimu dan memberikan ampunan kepadamu (Ali Imran: 31),
Maksudnya, pasti Allah akan ridho kepadamu. Al-Azhari berkata, (Wa mahabbatullaha lil ‘ibaad in’amahu ‘alaihim bil ghufraan) “Cinta Allah kepada hamba-Nya adalah memberikan kenikmatan kepadanya dengan memberikan ampunan.” Menurut Ibnu Katsir, yakni karena kalian mengikuti Rosul SAW, maka kalian memperoleh karunia itu berkat perantaraannya.

Menurut Jalaluddin As-Suyuthi & Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahaliy (Jalalain), dalam menafsirkan ayat: (Ali Imran: 136)

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di bawahnya mengalir anak-anak sungai, kekal mereka di dalamnya dan itulah sebaik-baiknya pahala bagi orang yang beramal (artinya, pahala bagi orang yang mengerjakan perbuatan terpuji).

Kemudian Allah memerintahkan setiap orang, baik dari kalangan khusus ataupun dari kalangan awam melalui firman-Nya:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا

Katakanlah, “Taatilah Allah dan Rosul-Nya, jika kalian berpaling, (Ali Imran)
Yakni menentang perintah-Nya.

(فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (32

Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali Imran: 32).

Menurut Ibnu Katsir, Ayat ini memberikan pengertian bahwa menyimpang dari jalan ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya merupakan perbuatan yang kufur, dan Allah tidak menyukai orang yang mempunyai sifat demikian, sekalipun ia mengakui bahwa dirinya cinta kepada Allah dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya, sampai ia mengikuti Rasul yang ummi penutup para rasul yang di utus untuk seluruh makhluk jin dan manusia. Karena seandainya para nabi- dan bahkan para rasul atau mereka yang dari kalangan ulul azmi- berada di zaman nabi Muhammad SAW, maka tiada jalan lain bagi mereka kecuali mengikuti Nabi Muhammad SAW, taat kepadanya, serta mengikuti syariat-nya. Seperti dalam firman-Nya:

{ وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ (81) فَمَنْ تَوَلَّى بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (82) }

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi; “sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepada dan menolongnya.” Allah berfirman: Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui” Allah berfirman:”kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Ali Imran: 81).

Yang menjadi fokus di sini ialah bagaimana mewujudkan Cinta kepada Allah dan Rosul-Nya. Cinta kepada Allah dan Rosul-Nya hukumnya wajib. Sebagaimana kewajiban taat kepada-Nya. Karena mahabbah (cinta) merupakan salah satu kecenderungan yang akan membentuk nafsiyah seseorang. Kecenderungan ini terkadang berupa perkara alami yang berbentuk naluri yang bersifat fitri (sesuai dengan penciptaan Allah). Naluri seperti ini tidak berhubungan dengan mafhum (pemahaman) apa pun; misalnya kecenderungan manusia terhadap kepemilikian, kecintaan kepada kelestarian dirinya, kecintaan pada keadilan, kecintaan pada keluarga, anak, dan sebagainya. Namun kecenderungan ini kadang pula merupakan dorongan yang berhubungan dengan mafhum tertentu. Mafhum inilah yang nantinya akan menentukan jenis kecenderungan tersebut. Misalnya, ketika melihat bunga yang indah, kita akan suka, tetapi kemudian setelah diketahui bahwa bunga tersebut beracun misalnya kita menjadi tidak suka. Inilah yang terjadi ketika cinta tergantung mafhumnya. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jenis kecintaan yang terikat dengan mafhum syar’i, yang telah diwajibkan oelh Allah SWT. Dalilnya adalah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah:165)

(wa al-ma’na inna al-ladziina aamanuu asyadda hubbalillah, man habba al-musyrikina lil andaada) Maknanya adalah orang-orang yang beriman itu lebih besar kecintaannya kepada Allah dibandingkan dengan kecintaan orang-orang musyrik kepada tuhan-tuhan tandingan selain Allah. Wallahu’alam.

Mengenali Potensi Diri Kita (Part 1)

0

Posted by Dede Heri Yuli Yanto | Posted in Uncategorized | Posted on 24-10-2011

Tags:

“Tak kenal makanya tak sayang”, barangkali pepatah tersebut relevan digunakan untuk menggambarkan pentingnya mengenali potensi diri kita sebagai manusia agar kita semakin sayang kepadanya. Sayang yang saya maksudkan adalah agar kita menjaga kehormatan diri dari segala perbuatan dosa yang dapat menjerumuskan kita ke tempat paling rendah (asfala safiliin (neraka)) setelah Allah SWT meninggikan penciptaan kita (fii ahsani takwiim) di atas makhluk lainnya. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَـنَ فِى أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ – ثُمَّ رَدَدْنَـهُ أَسْفَلَ سَـفِلِينَ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat serendah-rendahnya (neraka). (QS. At-Tiin (95): (4-5)

Ayat tersebut dilanjutkan dengan pengecualian bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bahkan bagi mereka terdapat pahala yang tiada terputus.

إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

Kecuali bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, maka bagi mereka pahala yang tiada terputus. (QS. (At-Tiin (95): (6)

Mengapa hanya orang-orang beriman dan beramal sholeh? Jawaban singkatnya adalah karena ia mampu mengenali potensi yang ada pada dirinya, serta mampu menggunakannya secara benar (bersumber dari Zat yang telah menciptakannya, yakni Allah SWT).

Setiap manusia (termasuk orang-orang kafir) diciptakan oleh Allah SWT dengan potensi yang sama, yakni (1) akal, (2) Gharizah (naluri), dan (3) Hajat al `udhowiyah (kebutuhan jasmani). Hanya saja, cara manusia menggunakan potensinya yang pada akhirnya membedakan apakah dia seorang muslim atau kafir, apakah dia penghuni syurga atau neraka.

Akal
Akal merupakan potensi yang sangat penting bagi manusia. Islam bahkan mewajibkan umatnya untuk menggunakan akalnya (disamping perasaan hati) dalam beriman kepada Allah SWT. Firman Allah SWT,

إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ وَاخْتِلَـفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لاّيَـتٍ لاٌّوْلِى الاٌّلْبَـبِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (Al-Imran (3): 190)

Siapa saja (termasuk orang-orang kafir) kalau mau menggunakan akalnya pasti akan menemukan bahwa segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akalnya terbagi menjadi tiga unsur, yaitu manusia, alam semesta dan kehidupan. Ketiga unsur ini bersifat terbatas, lemah, serba kurang dan saling membutuhkan kepada yang lainnya. Manusia bersifat terbatas karena ia lahir, tumbuh dan berkembang sampai batas tertentu yang tidak mungkin dilampauinya (kematian). Demikian pula kehidupan, penampakannya selalu berakhir pada satu individu, sehingga hidup pun bersifat terbatas. Alam semesta merupakan himpunan dari benda-benda angkasa yang setiap bendanya memiliki keterbatasan. Himpunan dari yang terbatas, tentu terbatas pula sifatnya. Jadi alam semesta-pun bersifat terbatas. Hal ini menggambarkan bahwa segala sesuatu yang ada itu adalah makhluk.

Segala sesuatu yang bersifat terbatas, pasti bersifat tidak azali. Jika bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir) tentu tidak mempunyai keterbatasan. Dengan demikian segala sesuatu yang terbatas pasti diciptakan oleh “sesuatu yang lain”. Sesuatu yang lain inilah yang disebut “Al-Kholiq”. Dialah Allah SWT.

Jadi, untuk membuktikan adanya “Al-Kholiq” Yang Maha Pengatur sebenarnya cukup dengan mengarahkan perhatian manusia terhadap benda-benda yang ada di alam semesta, fenomena hidup, serta dalam diri manusia itu sendiri. Karena itu di dalam Al-Qur`an banyak sekali terdapat ajakan kepada manusia untuk mengalihkan perhatiannya kepada benda-benda yang ada (alam semesta, kehidupan dan manusia) seraya mengamati dan merenungkan bahwa di balik semuanya itu terdapat Allah SWT yang telah menciptakannya.

Demikianlah akal dibekali kepada manusia agar ia mampu memahami bahwa dibalik penciptaan manusia, alam semesta dan kehidupan terdapat “Al-Kholiq” (Allah SWT) yang telah menciptakan semuanya. Namun amat disayangkan, setelah akal ini dibekali kepadanya, kebanyakan manusia tidak mau menggunakan potensinya untuk merenungkan semuanya tadi. Akal manusia diciptakan dengan potensinya yang mampu memahami keberadaan Penciptanya, tetapi manusia itu sendirilah yang tidak mau mempergunakan akalnya sehingga kebanyakan manusia malah menyembah sesuatu yang bersifat terbatas. Ada yang menyembah manusia (sebagai anak Tuhan), ada yang menyembah hewan, gunung-gunung, berhala-berhala batu, kayu, pohon, jin, bahkan hewan terkecil seperti semut. Sungguh aneh, tapi ini adalah fakta yang terjadi. Sekali lagi, inilah yang membedakan apakah seseorang itu muslim, atau kafir dan yang membedakan tempat berakhirnya, apakah di syurga atau di neraka. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita agar terus mau mempergunakan potensi akal kita untuk memikirkan dan merenungkan segala penciptaan alam semesta, manusia dan kehidupan ini sehingga semakin bertambah keimanan kepada-Nya. Amieen.

Demikianlah akal dan potensinya yang ada pada diri kita.
“wahai manusia, mari jujur kepada diri Anda, dan gunakan akal Anda, maka Anda akan dapat menemukan bahwa hanya Allah SWT, Tuhan yang telah menciptakan semuanya ini. Janganlah Anda menyembah sesuatu yang sifatnya sangat lemah dan terbatas. Sembahlah Dia (Allah SWT) yang bersifat “Azali”

WaAllahu A`lam bi Asshowab,