Kebodohan Abu Lahab dan Kebenaran Al-Qur`an

0

Posted by Dede Heri Yuli Yanto | Posted in Uncategorized | Posted on 14-02-2012

Tags:

Siapa yang tidak kenal dengan Abu Lahab. Setiap orang, apalagi seorang muslim tentu akrab dengan nama ini. Dia terkenal bukan karena kebaikannya, melainkan karena kebenciannya yang sangat kepada Junjungan kita Rosulullah SAW dan ajaran yang dibawanya, Islam. Bahkan, secara spesial, namanya tercantum di dalam Al-Qur`an sejak permulaan islam disebarkan di tanah suci Mekkah. Allah SWT mengabadikan namanya di dalam Surat Al-Lahab.

Al-Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Abbas, suatu ketika Rosulullah SAW pergi ke lembah Al-Batha dan menaiki bukitnya, kemudian berteriak:

يَا صَبَاحَاه
(Wahai manusia, datanglah kemari), maka orang-orang Quraish pun berkumpul di sekitar Beliau. Kemudian Beliau berkata:

أَرَأَيْتُمْ إِنْ حَدَّثْتُكُمْ أَنَّ الْعَدُوَّ مُصَبِّحُكُمْ، أَوْ مُمَسِّيكُمْ أَكُنْتُمْ تُصَدِّقُونِّي
(jika aku katakan kepada kalian semua, bahwa ada musuh yang akan menyerang kalian di waktu pagi dan petang, apakah kalian mempercayaiku?)
“Ya” sahut mereka yang berkumpul

Kemudian Rosulullah SAW melanjutkan:
فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيد
(Maka sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang dikirim kepada kalian semua sebelum datangnya azab yang sangat pedih)

Salah seorang dari mereka, Abu Lahab kemudian berkata: Celakalah engkau Muhammad, Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami semua disini?.

Kemudian Allah SWT menurunkan Firman-Nya:

تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ – مَآ أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ – سَيَصْلَى نَاراً ذَاتَ لَهَبٍ – وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ – فِى جِيدِهَا >حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ

(Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan dia benar-benar binasa. Tidaklah berguna baginya hartanya dan keturunannya. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang menyala (neraka). Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal)

Abu Lahab adalah salah seorang paman Rosulullah SAW. Nama sebenarnya adalah `Abdul `Uzza bin `Abdul Muttalib. Nama panggilannya adalah Abu `Utaybah. Dia dipanggil Abu Lahab karena wajahnya yang terang dan menyala-nyala. Ibnu Mas`ud berkata suatu ketika Rosulullah SAW mengajak orang-orang Quraish kepada keimanan, Abu Lahab berkata: “Seandainya apa yang dikatakan keponakanku itu benar, maka aku akan melindungi diriku dari pedihnya azab pada hari kiamat nanti dengan hartaku dan anak-anakku”. Maka Allah SWT berfirman pada ayat di atas yang artinya: “Tidaklah berguna hartanya dan keturunannya.”

Secara umum, ulama berpendapat bahwa surat Al-Lahab di turunkan Allah SWT untuk mencela sekaligus memberikan kepastian informasi bahwa Abu Lahab kelak pasti akan masuk ke dalam Neraka.

Yang menarik adalah, bahwa ayat ini turun disaat Abu Lahab masih hidup dan berada di tengah kaum mukmin saat itu. Ketika itu, tentu saja ayat ini sering di baca berulang-ulang dan di hafal oleh kaum mukmin sementara Abu Lahab di tengah-tengah mereka dan bisa mendengar ayat ini dibacakan. Tetapi entah apa yang ada di pikiran Abu Lahab saat itu. Seandainya dia memang pintar, tentu dia tahu ada jalan yang paling mudah untuk menghentikan dan membuat dakwah islam mati saat itu juga. Mungkin karena begitu bencinya dia kepada Rosulullah SAW dan ajaran yang dibawanya, sehingga cara termudah menghentikan dakwah islam saat itu tidak pernah terpikirkan olehnya.

Bagaimana tidak? Ketika surat Al-Lahab itu turun, seluruh kaum mukmin saat itu sudah benar-benar meyakini Al-Qur`an sebagai suatu kebenaran yang pasti, dan ketika itu Al-Qur`an mengabarkan bahwa Abu Lahab yang berada di tengah-tengah mereka kelak pasti akan masuk neraka karena senantiasa memerangi dan merendahkan Rosulullah SAW dan ajaranya, Islam. Seandainya saja saat itu Abu Lahab pintar, sehingga ia mau masuk islam dan menerima ajaran Rosulullah SAW, tentu akan menimbulkan keraguan tentang surat Al-Lahab di kalangan muslim. Dan tentu keraguan terhadap Al-Qur`an dan Islam akan menyelimuti kaum mukmin. Sebab, jika Abu Lahab masuk islam, tentu Surat Al-Lahab yang turun, tidak berlaku saat itu juga dan ini mengisyaratkan kebohongan Al-Qur`an. Pastilah Islam dan ajarannya sudah mati sejak saat itu juga.

Tetapi SubhanAllah (Maha Suci Allah), semua itu tidak terjadi. Abu Lahab dan isterinya tetap dalam kekafiran yang nyata hingga akhir hayatnya. Dan kalau begitu adanya, adakah kata yang lebih tepat untuk dinyatakan selain dari Abu Lahab yang Bodoh dan Al-Qur`an yang Pasti Benar?

SubhanAllah, semakin bertambah keyakinanku akan kebenaran Al-Qur`an yang benar-benar datang dari SisiMu ya Allah. Semoga Engkau menghimpun kami bersama hamba-hamba-Nya yang senantiasa membaca,menghafal dan mengamalkan Al-Qur`an di tengah-tengah kehidupan pribadi, masyarakat dan bernegara, Amieen….

Dede Heri Yuli Yanto
00.09 AM. May 17, 2010.
Matsuyama, Ehime, Japan.

Yang Penting Berbuat Baik???

0

Posted by Dede Heri Yuli Yanto | Posted in Uncategorized | Posted on 14-02-2012

Tags:

“Yang penting berbuat baik aja deh!” begitulah kira-kira ungkapan salah seorang teman saya, atau mungkin beberapa dari teman Anda. Saya sendiri tidak menyalahkan sepenuhnya ungkapan tersebut, tetapi yang perlu dikritisi adalah “berbuat baik yang seperti apa dan apa standarnya?” Sepintas kritik tersebut memang terasa berlebihan dan terlalu mengada-ngada. Bahkan seorang teman saya yang lain langsung menimpali. “Yah, yang penting berbuat baik, cukup jelas khan!”. Sebenarnya saya bisa menangkap apa yang dimaksudkan oleh teman saya itu, dan mudah-mudahan tidak keliru. Mungkin yang ia maksudkan adalah berbuat sesuai dengan aturan umum yang berlaku (yang biasa) saat ini di suatu komunitas masyarakat (tempat) dan sebagian besar orang/masyarakat di sekitar menganggap sebagai perbuatan yang baik. Intinya tidak berbuat yang aneh-aneh, dan masyarakat memakluminya. Pertanyaannya, “benarkah seperti itu?”

Adakalanya suatu perbuatan yang dianggap baik pada masa kini mungkin dahulunya dianggap momok, atau sebaliknya. Adapula perbuatan yang dianggap baik di suatu tempat, wilayah atau negara tertentu tetapi sangat mungkin dianggap buruk di tempat, wilayah atau negara yang lain. Bahkan perbuatan yang dianggap baik oleh seseorang, bisa saja merupakan keburukan bagi orang lain. Intinya, dengan mengganggap suatu perbuatan itu baik hanya karena sesuai dengan pengakuan sebagian besar orang pada “masa tertentu” dan “ditempat tertentu” ternyata tidaklah tepat. Karena nilai kebaikan sesungguhnya tidaklah mengenal masa (waktu), tempat, ataupun keadaan umum yang ada, apakah nilai itu dibenci atau disukai. Karena sesungguhnya sesuatu yang dibenci atau disukai bukanlah standar apakah sesuatu itu baik atau buruk. Sangat perlu bagi kita untuk menghayati apa yang Allah SWT firmankan dalam Surat Al-Baqoroh (216):

﴿ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ )

“Tetapi boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui.”

Baik dan buruk juga tidaklah ditentukan oleh anggapan umum sebagian besar manusia. Bayangkan kita bertanya kepada sekumpulan orang-orang yang mencari nafkahnya (mohon maaf: seperti lagu yang pernah dinyanyikan ulang oleh Peterpan) menjadi si “Kupu-Kupu Malam”. Sebagian besar dari mereka (kalau tidak bisa dibilang seluruhnya) menganggap perbuatannya adalah baik dan benar. Alasannya, demi mencari nafkah untuk menyambung nyawa (seperti di dalam lagunya). Lalu tanyakan kepada teman-teman anda tentang “demokrasi”. Kebanyakan mereka akan menjawab demokrasi telah sesuai dengan Islam. Lalu apakah hanya karena sebagian besar si “Kupu-Kupu Malam” menganggap perbuatannya baik, lalu kita ikut-ikutan meng”iya”kannya dan menganggap perbuatan itu biasa? Demikian pula halnya dengan “demokrasi”, apakah hanya karena sebagian besar manusia saat ini begitu mempercayainya, lantas kita ikut-ikutan menjadi pendukung bahkan pembelanya? sebaiknya tidak demikian. Bahkan dibanyak ayat Allah SWT senantiasa mengingatkan kita bahwa sebagian besar manusia adalah orang-orang munafik dan senantiasa membuat kerusakan tetapi mereka tidak mengetahui dan tidak menyadari.

Allah SWT berfirman:

وَمَا يَخْدَعُونَ إلاَّ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

…Padahal mereka hanyalah menipu diri mereka sendiri tanpa mereka sadari (Al-Baqoroh (2): 9)

( أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـكِن لاَّ يَشْعُرُونَ )

Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari (Al-Baqoroh (2): 12)

وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ

Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui…(Al-Qashash (57))

Berbuat baik memang penting, apalagi Allah SWT senantiasa menyukai bahkan menambah karunia bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.

(وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ)

“Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Imran (3) : 134)

وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

“Dan Kami akan menambah (karunia) bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Al-Baqoroh (2):58)

Tetapi yang lebih penting adalah “berbuat baik sesuai dengan standar yang benar, yakni bersumber dari Allah SWT,” sesuai dengan Surat Al-Baqoroh (2): 216 di atas, tidak lain adalah hukum syara`. Sangat berbahaya menjadikan anggapan umum manusia sebagai standar kebaikan (halal) atau keburukan (haram) karena manusia sifatnya terbatas dari segala hal. Manusia tidak akan pernah mampu mengetahui masa depannya, sehingga bagaimana mungkin dia bisa mengetahui bahwa sesuatu itu baik atau buruk baginya untuk saat ini terlebih lagi untuk masa depan? Sementara kebaikan dan keburukan itu berlaku tetap hingga kehidupan dunia ini berakhir. Dan hanya Allah SWT sajalah yang mengetahui segalanya. Manusia juga tidak pernah lepas dari kepentingan sehingga standar kebaikan dan keburukan yang bersumber darinya tentu tidak pernah lepas dari kepentingannya.

Barangkali inilah esensi kembali kepada syariah islam, karena hanya Allah SWT sajalah (melalui syariah-Nya) yang pantas dijadikan standar kebaikan dan keburukan. Ketika kita berpegang teguh kepada syariah-Nya, niscaya selamatlah kehidupan kita di dunia terlebih lagi di akhirat. Karena hanya dengan Syariah-Nya-lah kita akan mampu membedakan kebaikan (halal) dan keburukan (haram) dengan benar. Kebaikan yang kita lakukan di dunia, selama bersandar kepada hukum syara` niscaya mendatangkan kemaslahatan di dunia serta pahala di akhirat. Dan apakah yang lebih berharga daripada pahala dan keridhaan Allah SWT ketika di akhirat nanti, dimana hanya keridhaan-Nya lah yang membedakan apakah kita di syurga atau di neraka? Tidakkah kita khawatir, jangan-jangan kebaikan yang selama ini kita lakukan, karena hanya ikut-ikutan sebagian besar orang yang tidak menjadikan syariah sebagai standarnya, hanya akan bernilai sia-sia di hadapan Allah SWT? Lebih parahnya, bagaimana jika perbuatan yang selama ini dianggap baik oleh sebagian besar manusia ternyata adalah keburukan bahkan sesuatu yang dimurkai oleh Allah SWT? Bukankah itu sebuah kerugian yang besar?

Jadi, yang penting berbuat baik menurut syariah-Nya, dan mari kembali kepada syariah-Nya! Benar khan?

Wallahu a`lam bi asshowab….

Dede Heri Yuli Yanto,
Matsuyama, Ehime, Japan
4.18 AM. Saturday, May 22, 2010.

Nutrigenomics – New approach for understanding functional of foods

2

Posted by Dede Heri Yuli Yanto | Posted in Uncategorized | Posted on 14-02-2012

Tags: , ,

The relationships between diet and health are becoming more and more substantial, in particular with respect to the most prominent chronic diseases. The maintenance of health and the prevention and treatment of chronic diseases are influenced by naturally occurring chemicals in foods. In addition to supplying the substrates for producing energy, a large number of dietary chemicals are bioactive; that is, they alter the regulation of biological processes and, either directly or indirectly, the expression of genetic information. Nutrients and bioactives may produce different physiological and phenotypes among individuals because of genetic variability and not only alter health, but also disease initiation, progression and severity.

The study and application of gene-nutrient interactions is called nutritional genomics or nutrigenomics. Nutrigenomics is the study of the effects of foods and food constituents on gene expression. It is about how our DNA is transcribed into mRNA and then to proteins and provides a basis for understanding the biological activity of food components. Nutrigenomics has also been described by the influence of genetic variation on nutrition by correlating gene expression or single-nucleotide polymorphisms with a nutrient`s absorption, metabolism, elimination or biological effects. By doing so, nutrigenomic aims to develop rational means to optimize nutrition, with respect to the subject`s genotype. Many kind of protein are made according to the sequence of mRNA, and they play many important roles in maintenance of cell structure, metabolism, signal transduction, defense response and various scenes in living organisms. When the functional ingredients or whole foods are applied, it will affect on the profile of gene expression in cells directly or indirectly. These change in gene expression result in the various physiological effects and reflect the function of the foods. Thus, we can find and evaluate the function of food components or whole food by knowing the types and function of the gene whose expression level has fluctuated by them.

Nutrigenomics

One paper that I have found in scientific journal reported the molecular basis of dietary obesity. The journal title is: DNA Microarray Analysis of Genes Differentially Expressed in Diet-Induced (Cafetaria) Obese Rats. Obesity Research Vol. 11 No.2 February 2003. The authors examined adipose tissue genes differentially expressed in an obesity model using DNA microarray analysis. Increased food intake and decreased energy expenditure associated to modern lifestyles have contributed to the widely spread of obesity development. Several arrays have been conducted in genetically obese animals, providing valuable new molecular insights despite some limitations. In this report, author analysis the effect of long-term high-fat intake on the expression pattern of 4500 full-length genes. Gene expression profile of adipose tissue from obese rats (cafeteria diet) was compared with control animals to search for changes in gene expression in response to a hypercaloric fat-rich diet. Sample mal Wistar rats (5 week old) were housed in cages under controlled conditions of light (12 hours of light/12 hours of dark) and temperature (22 + 2 oC). All experimental procedures were performed according to National and Institutional Guidelines for Animal Care and Use at the University of Navarra. Rats (20) were assigned into two dietary groups for 65 days. The control group (n=10) was fed with a standard laboratory pelleted diet and free access to water (6% calories from fat), whereas the second group (cafetaria diet, n=10) was fed a fat-rich hypercaloric diet containing pate, chips, chocolate, bacon, biscuits, and chow in a proportion of 2:1:1:1:1:1 (65% calories of fat). Food was offered ad libitum and food intake and body weight were measured daily. After the experimental feeding period, animals were euthanized and epididymal white adipose tissue was immediately removed, frozen in liquid nitrogen, and stored at -80 oC. Serum glucose, proteins, cholesterol, glycerol, triglycerides, and free fatty acids were analyzed using an Autoanalyzer by routine procedures. Plasma insulin was assayed by radioimmunoassay using 125I-labeled insulin, whereas leptin was determined by radioimmunoassay. Results shows that Cafetaria (obese) rats weighed 50% more and had 2.5-fold higher level of epididymal fat and elevated levels of circulating leptin. Adipose genes differentially expressed in obese and control rats were categorized into five factors, hormone receptor and signal transduction, redox and stress proteins, and cellular cytoskleteon. Interestingly, the expression levels of a number of genes involved in lipid metabolism such as glycelol-3-phosphate dehydrogenase, stearoyl coenzyme A desaturase, together with the transcription factors implicated in adipocyte differentiation (CAAT/enhancer binding protein-α and peroxisome proliferator-activated receptor-γ), were significantly increased in obese animals compared with control. The most up-regulated transcripts were the ob (49.2-fold change) and the fatty acid-binding protein genes (15.7-fold change). In contrast, genes related to redox and stress protein were generally down-regulated in obese animals compared with the control. The study showed that in diet-induced obesity, the expression levels of some important genes implicated in lipid metabolism were up-regulated, whereas those related to redox and stress protein were down-regulated in obese animals compared with control. This pattern of gene expression may occur in human obesity case after high-fat intake.

Structure and function of cold-adapted enzymes: insight into structural motion and catalytic mechanism

2

Posted by Dede Heri Yuli Yanto | Posted in Uncategorized | Posted on 14-02-2012

Tags: ,

From biodiversity to biotechnological aspect, scientific investigation related to enzyme produced by microorganism has increasingly attention. Enzymes from different place; temperature dependent, will have different behavior and properties. For instant, when enzymes from mesophilic or thermophilic organisms are submitted to cold temperature, rigidification of their structure may cause a loss their activity. However, the cold-adapted enzymes from psychrophilic microorganisms living at temperature close to the freezing point of water encountered in, and generally exhibit a higher activity at low temperatures and a lower thermal stability than their mesophilic counterparts. The properties of cold-adapted enzymes make them potentially valuable alternatives to their mesophilic counterparts. To answer the question how the structural motions of enzymes contribute to their catalytic activities, the investigation of enzyme behaviour or ability to undergo efficient catalysis at low temperature is a crucial step achieved by the determination of kinetic and thermodynamic parameters of the catalytic reaction in a wide range of temperatures, and by the comparison of these parameters with those from a related mesophilic enzyme investigated in the same conditions. Enhancement of the catalytic activity of the catalytic activity of psychrophilic enzymes is generally attributed to an increased flexibility of some of their structural components, leading to, generally, a reduction of their thermostability. In case for the glucokinase enzyme from psycophropilic bacteria have higher activity and higher thermostability. However, generally, the low stability of cold-adapted enzyme should be the consequence of structural changes raised from the strong selection pressure allowing a viable physiological activity at low temperature. Flexibility of cold-adapted enzymes remains the main adaptive character of psychrophilic enzymes, responsible for the decrease of activation enthalpy (∆H*) that efficiently increases kcat at low temperatures. For examples, data noticed that the β8-9 turn regions of psychrophilic subtilisins are more flexible than those mesophilic counterpart, however affected to the thermostability. We summarized that, the increasing of engineered flexibiliy of psychrophilic enzyme contribute to the decreased thermal stability and further increased the catalytic reaction of enzyme. How the decreasing of activation enthalpy can increase the kcat. This equation explained the answer.
k = ƙkB T/h exp (-∆G*/RT),
in which k is the catalytic constant, kB is the Boltzmann constant, T is the temperature in Kelvin, ∆G* is the activation energy, R is the gas constant, and ƙ is the transmission coefficient which is in general misleadingly considered to be equal to 1. From this equation, ne can readily appreciate the importance of the value of the activation energy on the reaction rate. Indeed, if one assumes a value of ∆G*= 40 kJ/mol, a decrease of only 10% of this value will increase the reaction rate by a factor of nearly 2. This underlines the importance of catalysts such as enzymes, the basic action of which is to decrease the activation energy of a chemical reaction. A very efficient enzyme will bring the activation energy close to zero, in which case the exponential term will tend to 1 and the reaction will become nearly independent of temperature. An important consequence is that the lower the activation energy, the lower the thermodependence of the reaction rate. This has to be considered as of prime importance in the context of cold adapted enzyme that by increasing of engineered flexibility of enzyme at low temperature, is to develop an enzyme that either decreases the activation enthalpy of the reaction or increase the activation entropy, because:
∆G*= ∆H*-T∆S*
Protein science or its research techniques closely related and contributed to my research. My research title is related to bioremediation and biodegradation of crude oil by fungi screened from nature. We screened and isolated the fungi from oil contaminated site and applied these fungi to oil contaminated site. In addition, enzyme activities such as, cathecol 1,2-dioxyganes (C12O), cathecol 2,3-dioxygenase (C23O), laccase, manganese peroxidase, and lignin peroxidase, that responsible in biodegradation were measured and we analyzed the close relationship between this enzyme and biodegradation yield. However, recently, the oil contamination in Artarctic and other place that the temperatures close to or below 0oC has been reported. By the screening method, we can isolate oil degrading microorganism from these kind of place. By the protein science and its research techniques, we can analyzed the differences and the relationship of enzyme activities especially, C12O, C23O, laccase, manganese peroxidase and lignin peroxidase activities to their mesophilic enzymes. However, high activities of these enzymes at low temperature are highly expected by the researcher concerned in bioremediation and biodegradation of crude oil in low temperature area.